Eksekusi Terakhir

5 Apr 2013

Semua mata terlihat menahan derasnya air mata yang seakan-akan tak mau berhenti mengalir ke bumi. Segenggam bunga mawar, melati dan beberapa kembang lainnya ditaburkan di atas sepetak tanah berukuran 1 kali 2 meter itu. Hari itu, keluarga Ucup sangat sedih melihat anak bungsunya terbujur kaku dibalut dengan kesedihan. Kematian Ucup itu tidak lepas dari tragedi yang melanda SMK N 5 Tangerang 4 bulan yang lalu di saat setelah pengumuman kenaikan kelas.

Seperti biasanya pagi itu Toni sedang memanasi mesin motornya di garasi depan. Ryan yang rumahnya tidak telalu jauh dari rumah Toni, sedang menunggu Toni di teras rumah sambil mendengarkan mp3 yang dicolokkan menggunakan earphone. Tak lama kemudian suara getaran mesin dari motor Kawasaki Ninja milik Toni tiba di depan rumah Ryan. Ryan segera naik dan mereka berangkat ke sekolah.

Melaju dengan kecepatan lebih dari 120 km/jam sudah menjadi kebiasaan kedua pemuda itu di jalan. Tidak jarang juga setiap malamnya mereka mengikuti ajang balap liar yang hadiahnya bisa mereka pergunakan untuk membeli satu cepet rokok. Setibanya disana terlihat ada beberapa gorengan dan secangkir kopi diatas bangku mereka, benar saja Toni dan Ryan memang tidak langsung berangkat ke sekolah, mereka biasa mampir di warung Bang Ali yang terletak tak jauh dari sekolahan mereka. Di sana Surti dan Cahyo sudah menunggu mereka untuk menghisap beberapa batang rokok sebelum ke sekolah. Tahu isi dan seduhan kopi hitam menemani sebatang gudang garam Surya mereka.

Maaf pak kami terlambat kata Toni sambil cengengesan di hadapan pak Ahmad yang saat itu sedang mengajar Sejarah di kelasnya. Kalian ngelindur ya ? Jam 7.30 baru datang jawab pak Ahmad sambil menulis daftar absensi kelas di bangkunya. Maaf pak tadi ban motor saya bocor alasan itulah yang menjadi andalan dari Cahyo. Ya sudah kalian boleh duduk dengan berat hati pak Ahmad mengijinkan 4 anak brandalan itu duduk di bangkunya.

Tampaknya pagi itu ada yang tidak suka dengan kehadiran mereka, Jono namanya. Maklum saja sudah sejak kelas 10 Jono selalu menjadi budak dari 4 brandalan itu. Sebenarnya jumlah brandalan dari kelas XI B itu ada 5 orang, namun setelah pengumuman kenaikan kelas 4 bulan yang lalu, Ucup diputuskan untuk tinggal di kelas XI. Mereka sering meminta uang saku Jono dan menyuruh dia untuk mengerjakan tugas-tugas mereka. Bukan karena Jono memiliki uang yang belimpah-limpah sehingga dia mau memberikan uangnya ke anak-anak itu, melainkan Jono takut jika dia tidak menuruti permintaan mereka, mereka akan memutuskan rantai sepedha jengki milik Jono seperti kejadian setahun yang lalu. Jon, Jongos .. Hahaha ledek Cahyo pada siswa laki-laki berseragam kumel yang duduk di depannya itu. Benar saja belum sampai hati nurani Jono berhenti berkata, Cahyo sudah menyodorkan lembaran kertas kosong. Tidak lain dan tidak bukan adalah untuk menyuruh Jono mengerjakan tugas Fisika yang pada jam pelajaran ke-5 harus dikumpulkan. ga bisa Yo, aku juga belum selese ngerjainnya tolak Jono dengan nada yang agak kesal. @NJ#NG)(&% keluarlah kata-kata kotor dari bibir cahyo. kalau kamu ngga mau ngerjain tugaskuu, mati loe ntar dengan melotot Cahyo memukulkan kertas itu di punggung Jono. Pagi itu Jono hanya bisa merunduk sambil wajahnya memucat dan kakinya gemetar mengguncangkan bumi. Jono memang sengaja mencoba menjadi laki-laki sejati yang tidak kalah dengan gertakan orang lain.

Pukul 09.00 WIB jam pelajaran Sejarah telah selesai. Tak lama kemudian pak Ribdo datang dengan brengos ala maduranya. Pak Ribdo sering disebut guru killer oleh peserta didiknya. Benar saja, paling tidak ada 5 siswa setiap jam pelajarannya yang menjadi korban dari pria asli Pulau Madura itu. Tugas Fisika yang saya kasih kemarin silahkan dikumpulkan di meja saya sekarang !! Sambil melotot menatap 36 siswa di depannya, Pak Ribdo menyuruh muridnya untuk segera mengumpulkan tugas yang telah ia berikan. Satu per satu siswa maju kedepan dengan membawa lembaran yang berisi jawaban dari tugas yang telah diberikan pak Ahmad. Seluruh siswa berjalan dengan kepala tertunduk, mereka tidak berani menatap sorotan mata pak Ribdo yang kadang-kadang membuat beberapa siswa pingsan atau bahkan ngompol.

Pak Ribdo terlihat sibuk meneliti jawaban di atas meja yang tertancap di bumi itu, sedangkan murid-muridnya sedang asik bercanda gurau dengan teman sebangku mereka masing-masing. Tetapi tidak semua siswa dapat merasakan guyonan kocak dari teman sebangkunya. Badan Jono terlihat gemetar sambil menarik ulur dasinya bak sedang bermain layangan. Bukan karena Jono belum menyelesaikan tugas Fisika dari pak Ribdo dengan baik, melainkan ada hal lain yang membuatnya sangat takut. Benar saja ketakutan Jono mulai terbukti, Pak Ribdo bangkit dari singgah sananya sambil menggeprak meja. Suara telapak tangan pak Ribdo yang menghantam papan kayu yang sering disebut meja itu seakan memecahkan pikiran Jono. Badannya mengeluarkan keringat dingin yang deras mengalir. Ananda Abdi Sucahyo, kesini kamu!! terdengar satu nama yang menjadi korban pak Ribdo telah disebut. Cahyo yang merasa tidak asing dengan nama itu akhirnya maju kedepan kelas, badannya terlihat loyo tidak segagah saat ia berhadapan dengan pak Ahmad. Cahyo menghampiri Pak Ribdo dengan kepala tertunduk, ternyata Cahyo belum menyelesaikan tugas Fisika yang diberikan Pak Ribdo. Tanpa banyak bicara Pak Ribdo langsung menunjukkan tempat eksekusi bagi Cahyo. Cahyo hanya bisa berdoa agar dosa-dosanya bisa diampuni sebelum eksekusi itu dilakukan.

59c197387e92cf8fb57bffe834cdb23d_cerpen

Cahyo berbalik menghadap ke teman-temannya. Terdengar suara tegukan dari leher Cahyo yang sedang menelan ludahnya sendiri. Di sisi lain pak Ribdo sedang mengisi amunisi senjatanya. Siang itu pukul 10.00, suasana begitu mencekam. Tidak ada tim medis yang bisa membantu Cahyo saat itu, Cahyo hanya bisa berdoa kepada sang khaliq agar segala kesalahannya bisa diampuni. Pak Ribdo mulai membidik korbannya yang tidak lain adalah peserta didiknya sendiri.

Eksekusi itu telah dilakukan oleh Pak Ribdo, setlah melakukan perbuatan kejam itu, dia segera menyarungkan lagi senjatanya di saku sebelah kanan. Terlihat tubuh Cahyo yang sudah tidak berdaya lagi, badannya memucat. Air terus mengalir dari pori-pori kulitnya. Darahnya begitu bening dan berbau sengak karena darah Cahyo memang memiliki kandungan amonia (NH3) dan mungkin jika ada yang mau menjilatnya, darah Cahyo akan terasa asin. Cahyo terbisu menatap langit putih didepannya yang terdapat sedikit goresan awan hitam yang membingungkan.

Setelah kejadian itu, sekarang Cahyo terlihat lebih rajin mengunjungi perpustakaan. Bukan dengan tujuan nggodain cewek yang sedang belajar seperti yang dulu, melainkan untuk mencari modul-modul pembelajaran baru. Di rumah, Cahyo juga terlihat lebih rajin belajar dibandingkan yang dulu dimana ia hanya menghabiskan waktu dengan hape baru dari mamanya. Kejadian memalukan Cahyo yang tidak bisa menjawab pertanyaan dari Pak Ribdo itu adalah eksekusi terakhir baginya.


TAGS Cerpen


-

Author

Follow Me