Sebelum Aku Melihat Bintang

6 Apr 2013

Saat semua orang bertanya padaku Kamu ngapain sih ? dengan mudah aku menjawab Liatin bintang kali …. Gimana mereka mau ndak tanya begitu terus ke aku, kerjaanku itu melulu sejak aku pulang dari Study Tour-ku. Well, emang ndak bisa disalahin sih mereka, hampir karena emang tiap aku liat ke bintang aku ingat sama dia.

Kyraaaa bugh.!tiba-tiba ada hantaman lembut di atas kepalaku, oh ternyata bantalku toh yang melayang. Tapi siapa yang ngelempar, saat aku menoleh dan melihat wong iku Haduh..jian kenapa sih Mas !. Seorang cowok tinggi dengan postur ideal yang ia buanggakan itu dengan santai menghempaskan dirinya diatas singgasanaku, diatas sofa-ku di balkon kamar. Aku yang sedang mencak-mencak gara-gara kelakuannya tadi kontan melakukan perlawanan, dengan memanjangkan kaki-kakiku untuk menjejek-nya. Ngapain sih ! Lhawong orang mau duduk manis malah diusir-usir, ndak dapet pahala lho ntar !, Hu.sok ngertos samean niku, adanya situ yang sakpenake dewe ngelemparin adeknya yang lagi sibuk konsentrasi ini dengan bantal, dasar ndak tau aku lagi sibuk opo. Wooo! kataku sambil bersungut-sungut dan menggebuknya pakai bantal, yang dimarahin malah senyum-senyum, didalam batinku Masku ini sudah ndak waras ya? Hehehe map-maap namanya juga iseng makane iku aku ngelemparin bantal neg kamu adekku yang ngomongnya medhok sambil meneloyor kepalaku. Biarin, lhawong Mas ku ya sama-sama medhok kataku cepat sambil mengangkat sedikit daguku.

Wo, emang adekku ini ndak mau ngalah sama Mas-nya ini. Lagi ngapain sih ndek sini ? Adem, Dek . Aku yang sedari tadi mendengarkan celotehannya menoleh dan menunjuk Tuhlagi liat bulan.. kataku, Walah, jadi buku-buku mu ini cuman pajangan tok balasnya, Hehehe ndak dong belas aku Mas soalnya aku ndak jadi melanjutkan perkataanku saat melihat Mas Aidan menatap kelangit dengan mata berbinar. Mas.. teriakku sambil mengguncangkan pundaknya takut kalau dia kemasukan yang ndak-ndak kan susah ntar, Dalem.jawabnya tanpa dosa, fiuh, untung masih sadar batinku.Lagi ngapain sih sampai adeknya ndak dianggep kataku separo dongkol. Giliran dia menjawab malah dia merentangkan tangan dan menatap lurus ke atas Bintang jawabnya pendek aku lagi liat yang namanya bintang, cuantik tho Ky lanjutnya sambil tersenyum, kemudian aku ikut-ikut menatap ke bintang dan kurasakan angin malam menyapu tubuh kami, aku berkata Cantik sih Mas, tapi apa ndak lebih cakep-an bulan tho terang, gedhe, ngelihatnya ndak susah pula, ndak ngoyo balasku. Kemudian Bugh ada bantal yang melayang dan menabrak lembut tepat wajahku, ndak sekeras yang tadi untungnya. Fiuh. Tapi dengan perasaan sebel aku mengambilnya dan melemparnya kearah pengirimnya Bugh kali ini sukses mengenai samping kepalanya. Kyra! ucapnya cepat setelah terkena lemparan bantal amukan dari ku begini yha nduk biar Mas Aidan jelaskan kenapa bintang itu lebih setia di banding bulan, Kenapa ?kataku penasaran sekaligus rodok ndak trimo, lhawong aku sukanya sama bulan. Makane tho neg ada wong ngomong mbok yha didengerin dulu, aku mengangguk cepat, dan sebelum aku memotong kata-katanya lagi dia segera melanjutkan bintang itu lebih setia dibanding bulan, tau kenapa aku bilang begitu karena dia selalu ada, mau hujan, mau badai, mau mendung thok,mau geledek menyambar-nyambar, mau pagi, siang, sore, ataupun malam sebenernya mereka itu ada, ndak pernah pindah apalagi pergi. Mereka mungkin kelihatan ndak ada tapi sebenernya mereka itu selalu ada, mereka hanya kalah dengan sinar matahari yang lebih benderang dibanding dengan sinar mereka. Mereka memang begitu jauh, tapi mereka selalu ada, mereka berusaha dengan keras untuk memperlihatkan sinar indah mereka walau hanya nampak sebagai titik cahaya mungil di dalam luasnya langit. Mereka nggak hanya menghias ataupun nagkring di langit dengan sempurna sesuai waktu yang tertentu layaknya bulan. Setiap saat mereka ada, bukannya aku ndak suka sama bulan aku suka hanya saja aku berpikir tanpa matahari bulan itu ndak akan pernah bisa bersinar, dan faktanya matahari itu bintang. Jadi, bintang itu bukanlah penghias langit yang tanpa arti, mereka lebih dari pada itu. Terus kalo kamu kuangen sama Mas mu yang perfect ini, kamu bisa hempasin rasa kangen mu itu ke bintang. Katanya penuh semangat namun aku melihat sorot mata kesedihan dan keseriusan dimatanya, tapi aku ndak yakin.

Aku menopang dagu dengan kedua tanganku sambil melongo kearah Masku Wow Mas sejak kapan samean ngefans sama bintang. Kata-katanya itu lho ndak nguatin banget, kenapa ndak jadi Psikolog atau Motivator atau opo ngunu.. Hlakok malah jadi manager toko buku, terus kangen, lhawong Masku ndek sini kenapa kangen kataku takjub plus bingung, orang yang aku puji-puji malah senyum dengan penuh bangga Yha karena jadi manager toko buku itu, aku jadi bisa ngomong kayak begini, ndak papa tho kali ae kangen karo Mas e makane tak bilangin dulu, kalo kangen ya liato bintang. Aku hanya diam tak menanggapi apa yang dikatakan Masku, dan terpana melihat lintang, kalo bahasa Indonesianya yha bintang itu tadi. Ternyata bener kata Masku yang rodhok ndak jelas iku bintang iku uayu, cuantik, dan aku juga jektas ngeh kalo tiap ndak ada bulan aku pasti ngeliatin bintang kataku dalam hati, tanpa sadar aku sampai guya-guyu dhewe, sampai tersadar karena dengar suara Adhekku stres iki guya-guyu dhewe ckckck sambil geleng-geleng prihatin. Kontan aku langsung menoleh menimpuknya dengan bantal dan berkata Lhayo.stress duengkulmu, jektas dipuji wis ngelokne adheke stress i malahan wooMas Jian mboh kataku sambil bersungut-sungut dan muka berlipat-lipat. Huahahaha, Adoh, aduh! dia tertawa dan malah kutambah cubitan-cubitanku.

Tanpa kusadari ternyata itu hari yang paling berarti buatku, seharusnya aku memanfaatkannya. Sehari setelah hari itu aku pergi Study Tour diantar oleh Masku itu. Dan seminggu setelah itu aku pulang, malam harinya sampai dirumah aku menemukan hal yang janggal. Ndek mana Mas Aidan ? tanyaku pada Bunda, dan Ayah mereka hanya menjawab dengan saling menatap satu sama lain. Kemudian aku merasa ada yang tak beres Ada apaa sih Bun, Yah ? Ndak lucu ah ditanyaain kok malah pada diem kataku bingung.

Kemudian Ayah memandangku, dan Bunda berjalan perlahan keaarahku. Adhek di tunggu Mas di atas, kita keatas yuk !kata Bunda sambil tersenyum penuh arti, lebih terlihat seperti senyum yang dipaksakan untuk menutupi kepedihan. Sesampainya di lantai atas balkon kamarku, aku melihat singgasana ku kosong melompong. Mana Bun, ndak ada Mas Aidan ngunu lho.tapi langitnya cuerah lho Bun, banyak bintang e begitu,kataku kemudian aku tertegun melihat kabut bening di mata Bunda. Emang ndak ada nduk, Mas mu ndak disini karena Mas mu ada di sana. Bunda menunjuk ke atas, kelangit cerah penuh bintang yang berkerlip dan berpedar dengan indah, namun keindahan itu tak sanggup membuatku tersenyum bahagia, tak sanggup mencegah kabut yang mulai memenuhi mataku. Kurasakan kabut itu terlalu berat untuk pelupukku hingga cairan bening itu menetes dan berkelip terkena cahaya. Karena Masku itu, ada disana bersama dengan bintang-bintang, pergi tanpa pamit padaku adheknya dan untuk pertama kalinya aku mengakui, aku kangen padanya. Seseorang bernama Muhammad Aidan Atmadirdja, kakakku yang kini terlukis dilangit malam bersama bintang.


f167c7331159a0967138dd362e73fea2_bintang-1sumber gambar

Karya : Rizki Mutiara Dewi

Asal : SMA N 1 Pare XI IA 2012/2013


TAGS Cerpen


-

Author

Follow Me