Eksekusi Penciuman Orang Gila

9 Apr 2013

e94ab27382c9e6d8c8816dc763f079c6_foto-kartun-ciuman-13Sumber gambar

Cepat pulang, cepat kembali, jangan pergi lagi. Firasatku ingin tuk kau cepat pulang kak ! Begitulah sms yang aku baca ketika berada di jalan raya dengan didampingi sepeda motorku. Secara spontan aku tidak menggubris sms dari bundaku tersebut. Dengan hati yang was-was, aku tetap melanjutkan perjalananku menuju tempat les. Memang ada pepatah yang mengatakan bahwa Hati dan firasat seorang ibu kepada anaknya tidak akan salah. Meskipun aku mengerti pepatah itu, tetap saja aku langgar.
Ditengah-tengah perjalanan, aku merasa ada yang mengganjal dengan sepeda motorku. Beberapa saat kemudian, ban belakang sepeda motorku mengeluarkan suara menggelegar seperti bom. Dengan berat hati aku menuntun sepeda motor sialan itu. Dalam keadaan bingung, aku tidak sadar bahwa disekelilingku tidak ada manusia satupun. Hanya suara angin semilir, dan lakuankulah yang mengiringi langkahku dibawah terik matahari itu. Setelah beberapa meter barulah aku menemukan sebuah bengkel. Terlihat dengan jelas disana sekumpulan remaja nakal. Di setiap langkah yang ku pijakkan mengapa jantungku berdetak, disetiap hembusan nafas yang ku keluarkan mengapa darah ini mengalir deras seperti bumerang mau perang. Otakku pun secara otomatis memancarkan sinyal-sinyal negatif. Hati kecilku berkata Kalau aku sampai diapa-apain, siapa yang mau menolongku? . Dengan semangat aku ucapkan satu kata Bismillah. Aku yakin dengan sepenuh hati bahwa Allah SWT masih ada dihatiku untuk menolong. Secara tidak segan-segan aku langsung memasukkan sepeda motor sialan itu ke dalam bengkel remang-remang. Apa boleh buat, terlontar kata Mas, ban saya bocor. Mas-mas bengkel tersebut langsung menyaut dengan suara sok manis Ohiya dek, sampean taruh disitu dulu. Tak lama kemudian, aku segera meninggalkan tempat bengkel remang-remang tersebut. Berhubung disebelah bengkel ada sebuah rumah yang dibagian halamannya ada tempat duduk, aku segera berjalan menuju tempat itu. Handphone yang berada di tas langsung ku ambil tanpa pikir panjang. Pada saat itulah aku dengan terpaksa menelepon ayahku, karena jam menunjukkan sudah terlalu sore. Setelah semua aku ceritakan kepada ayah, ayahku segera mengambil keputusan untuk menjemputku agar aku tidak terlambat les.
Namun, nasib memang masih berada ditanganku. Setelah aku menutup telepon.Tiba-tiba dari sudut pintu tampak seorang sosok ibu dengan berpakaian daster dengan bagian tangan dipenuhi dengan perhiasan-perhiasan yang mengkilat, datang menghampiriku. Secara spontan, aku langsung melontarkan kelatahanku. Ibu- ibu itu memandang aku dengan penuh kasih sayang seperti ibu kandung kepada anaknya. Ibu itu berkata Enduk, ayo masuk dirumah aja. Nanti ibu kasih jajan banyak. Awalnya aku ingin menerima tawaran ibu itu. Setelah aku pikir panjang, ibu ini sangat aneh, masak aku sudah remaja kaya gini dikasih jajan? Tangan ibu itu mendekap wajahku, bibir merah tipis ibu itu mencium aku dipipi kanan dan pipi kiriku. Aku berusaha mengelak, tapi apa daya usahaku sia-sia. Ibu itu terlalu keras mendekapku. Setelah peristiwa itu, ibu-ibu itu lari menuju rumahnya sedangkan aku hanya bisa merenungi kejadian apa yang baru saja terjadi. Pikiranku saat itu bagaikan gado-gado, sampai-sampai aku tidak bisa berkedip. Bulu romaku berdiri, keringatku menetes, wajahku semu-semu merah.Ya..Tuhan, aku tidak perawan lagi. Bayangin aja pipi kanan dan pipi kiriku dicium sama orang yang belum jelas asal-usulnya.
Ibu-ibu itupun ternyata keluar dari rumah itu lagi. Dengan membawa uang 20 ribu di genggamannya. Pada saat itu, aku dalam keadaan fustasi. Rasanya, aku tidak ingin berdekatan dengan ibu itu. Ketika ibu itu mendekat, seketika aku langsung kabur kerumah tetangga sebelah. Kebetulan saat itu ada tetangga sebelah yang memanggil aku untuk kerumahnya. Dengan kecepatan total, aku langsung lari. Tetapi ibu-ibu itu tetap saja mengejarku. Pokoknya pada saat itu aku seperti kucing dan tikus. Akhirnya tertangkaplah aku, pada saat itulah aku digenggami uang serta beberapa emas yang ada ditangannya. Lalu ibu itu berkata Ini nanti dibuat beli permen ya. Kata-kata konyol itulah yang membuat hatiku berkata bahwa ibu itu adalah orang gila, aku menolak disaat uang dan emas itu ibu sodorkan. Tetapi tetangga itu menyuruhku untuk menerima uangnya.
Setelah kejadian itu, tetangga tersebut menceritakan semuanya. Bahwa sebenarnya, ibu-ibu itu adalah orang gila. Beliau gila karena ditinggal anaknya pergi jauh keluar dari rumah tanpa pamit. Dan yang sangat tragis, ibu itu mengira bahwa akulah anaknya. Jadi, di pengalamanku kali ini dapat tersimpulkan bahwa kasih sayang seorang ibu sangatlah tulus, maka balaslah ketulusan itu dengan perilaku yang membuat diri seorang bunda dapat tersenyum dan bangga melihat kamu .

Karya : Mirna Fauziah Laily

Asal : SMA N 1 Pare XI IA2 2012/2013


TAGS Cerpen


-

Author

Follow Me