Rp 10.000 Bagai Diri

9 Apr 2013

Tak dinyana, terik matahari menembus kulit tipisku setiap hari. Pagi-pagi kok panas, aneh?, gumamku. Jamku bernyanyi dengan keras menunjuk pukul 8 pagi. Aktivitas orang yang hanya ku pandangi tiada henti, berjalan ke sana ke mari, hilir mudik di sekitarku. Heran aku, tak satupun yang terlihat kepanasan seperti dioven 1 jam lamanya. Mereka seolah tak merasakan panas. Wajah-wajah mereka berseri, riang, tubuhnya kekar bertenaga. Tak lupa kawan setia yang menemani mataku tuk senantiasa tak berkedip, semangat mereka menyambut pagi, pakaian mereka yang sederhana,lusuh dan penuh bintik-bintik lumpur di semua sudut pandang. Sebagian dari mereka membawa benda mirip angka 7 di pundaknya, sabit, topi penuh seni anyaman bambu. Mereka saling lempar senyum, sapa, menambah kehangatan suhu di desaku. Desa yang sangat terpencil, melewati 3 kelurahan, 1 sungai, 1gunung, 9 lautan, 6 benua, Huftbetapa jauhnya, sampai akhirnya tiba di desa Kepung.
Masih terlalu pagi untukku pulang, istirahat dulu ahh… Ku temukan pondok kecil bak istana bagi mereka yang telah habis tenaga terkuras. Ku baringkan badanku, sembari ku pandangi indahnya senyum langit yang tersirat padaku. Peluh bercucuran deras mengaliri wajahku, seiring suhu tubuhku naik karena kepanasan. Ku tutup mataku, ku hanyutkan pikirku searah angin yang berhembus di depan mataku. Tak kusangka 5 jam 24 menit 41 detik ku telah duduk tertidur dengan nyenyaknya. Ku pandangi sekitar, tak segelintir orang pun tampak hidungnya. Huuuapph..5 menit ku sudah nikmati hariku.
Liburan ku manfaatkan tuk jadi si bolang penelusur sawah desaku tercinta. Ku lakukan ini tuk hapuskan pengap pikirku yang terserang virus kepenatan. Entah tiba-tiba dating lagi virus itu, seolah tak puas dengan hanya aku yang menjadi bolang. Ku rasa perlu antivirus handal tuk taklukkan ini semua. Ku coba cari jalan keluar yang tepat. Cukup sulit. Sebagai mahasiswa fakultas MIPA, harusnya sudah ku pecahkan masalah ini. Ku gunakan rumus trigonometri, ku terapkan hukum Newton 2 , sudah ku reaksikan dengan H2O(uap) pikirku, dan sudah ku telusuri ujung-ujung saraf yang bekerja rodi di otakku. Namun semua nihil, tak ku temukan ujung masalahku. Semua urusan adap dan waktu. Andai ku bisa putar waktu, ku akan rubah adap. Namun apa dayaku, semua mengalir menghanyut.
Hei..melamun saja dari tadi, senyam-senyum sendiri, belajar gila ya?, gertak Miis dari samping. Seketika ku kaget, bangun dan menoleh ke arahnya. Eh kamu Mi, ada apa?.Kok tumben kamu ke sini, pakai baju bagus lagi, tanyaku pada gadis manis itu. Ini mengantar makanan untuk Abah, jawabnya halus, sehalus baju putih tulang yang dikenakannya. Nama lengkapnya Miis Royatul, temanku TK hingga SMA dulu sekaligus mantan tetanggaku, sekarang pindah di desa sebelah. Kehadirannya sedikit memberi udara sejuk dalam menemani kesendirian dan pikirku.
Bukannya kamu kuliah di Jakarta, kok kesasar di desa kecil ini?, Tanya Miis kepadaku. Ya sekarang masih liburan. Sekalian bantu orang tua dan sekaligus praktek lapang ..he..he..he?, jawabku enteng. Kenapa tidak dari dulu aja jadi guru?. Kamu cocok jadi guru sepertinya, sarannya. Darah petani yang mengalir mengisi seluruh sudut tubuhku merupakan panggilan jiwa tuk senantiasa menghimpun seluruh sumber sawahku ini. Terus mengapa kamu masuk fakultas MIPA?. Kurasa sedikit tidak nyambung., tanyanya lagi. Ya disambung-sambunginlah, itu keberuntunganku. , balasku. Kubalas semua pertanyaannya dengan senyum. Jaman sekarang mahasiswa sepertimu mana mau bekerja di sawah seperti ini, tanganmu pantas memegang pensil dan menulis, bukan mencangkul seperti ini, tambahnya. Senyumku kusiratkan sekali lagi padanya. Aku tahu maksud ucapan Putri ke dua Abah Mansyur itu.
Akhirnya yang ditunggu datang, Abah Mansyur. Ia membawa seikat bibit padi yang mungkin akan ditanamnya besok. Tubuh besarnya mengingatkanku pada Ade rai, Si tubuh kekar, meskipun umurnya sudah renta menginjak usia 85 tahun. Ehh.. Samsudin, mari ayo makan Bareng Abah, ini semua masakannya Miis lo, mimpi buruk nanti kalau gak cicipi, tawar beliau. Iya Abah, saya sudah makan tadi..(berhenti sejenak) pagi Abah,tambahku lirih. Miis hany tersenyum sembari melayani Abahnya. Malu aku dibuatnya. Miis tersenyum, sesekali angin mengayunkan jilbab putihnya. Dia memang nenek moyangnya para chef. Tak tahu resep rahasia apa yang telah ia gunakan , setiap orang yang mencicipi masakannya, merasa melayang di udara bersama kelezatannya. Sembari makan Abah berbincang denganku. Abah berpesan padaku agar hati-hati dalam bergaul karena teman dapat merubah watak seseorang.
Pesan beliau mengingatkanku pada Indra Subyakty Kusumo, teman kuliahku. Ia amat pemalu namun sopan sekali. Untung masih ada sisi positifnya. Dia temanku sejak masuk di bangku perkuliahan. Namun akhir-akhir ini ku merasakan bukan Indra yang aku kenal. Belakangan ini ia berubah sifatnya. Dia berani melakuk perbuatan yang tidak terpuji di belakangku. Ya karena ia sering bergaul dengan teman satu kostnya yang sering dugem di diskotik-diskotik ternama di Jakarta. Eman-eman .., ucapku spontan. Ya emang eman tenan, ada makanan kok gak dimakan., gurau Abah. Rupanya beliau mendengar gerutuku tadi. Suasana menjadi riang karena mereka menganggapku lucu.
Seusai makan Abah kembali melanjutkan kerjanya. Sebelum pulang,Miis berpesan, Jangan jauh-jauh cari ilmunya,tanaman padi ini sudah cukup jadi guru yang mampu buatmu arif. Pertemuan singkat ini sudah cukup menghilangkan rasa penatku semalam suntuk.
Tetapi kesendirian begitu setia menemaniku. Kepenatanku menyatu dengan heningnya alam. Tidak puas, kecewa, emosi bercampur menambah bobot penat pikirku. Terlintas ruwetnya kampus buatku tercengang, diam dan bisu mengalami semua acara ini. Ku masih teringat akan celaan temanku. Mereka hanya menuntut seorang pemimpin yang sempurna tanpa kesalahan sedikitpun. Semua telah berlalu.
Sotak sore telah menyambut. Ku ambil cangkul dan berjalan pulang. Langkahku semakin berat. Di jalan ku temuai saat-saat yang aneh, kutemui seorang kakek berbusana khas petani bersama anak-anak kecil di sebuah gubuk mungil. Si kakek menikmati pemandangan anak-anak yang sedang bermain. Si kakek mengeluarkan uang 10 ewu dan menaruh beberapa tangkai padi. Siapa yang mau uang 10 ribu?. Spontan, anak-anak itu mengacungkan tangan mereka. Namun sesaat kemudian kakek itu meremas-remas uang itu, dan kakek itu bertanya lagi pada anak-anak itu, dan ternyata reaksi mereka tak berubah. Kemudian kakek itu menginjak-injak uang itu lalu dibuangnya ke air dan diambilnya lagu, kakek itupun bertanya lagi pada anak-anak itu. Tak disangka anak-anak itu tetap bersikukuh meminta uang itu. Seperti sudah puas dengan tindakannya, kakek itupun membagi setangkai padi satu persatu pada anak-anak tersebut. Heran aku dibuatnya.
Dua hari tiga malam aku tidak bisa tidur, aku heran dan penasaran makna apa yang terkanduk dalam tindak itu. Akankah ada harta yang berharga tersimpan di dalamnya?, tanyaku pada diriku. Akhirnya aku bertekad untuk temui kakek itu.
Di gubuk bambu dengan lubang anyaman-anyamannya yang lebar. Ku izin masuk ke gubuk itu. Langsung kutanya maksud dan tujuan kakek itu melakukan itu semua. Dengan enteng kakek itu menjawab perihal semua itu. Uang itu diibaratkan dengan kita. Meskipun mendapat ujian seperti dilecehkan, disakiti, dikritik bahkan tidak dipercaya oleh manusia kita masih memiliki nilai berharga di sisi lain. Meski jasad dan batin terluka sebagaimana uang itu diinjak-injak itu masih berarti. Untuk tanaman padi itu, kutanamkan sikap rendah hati meski berilmu maka orang tersebut akan menyadari betapa besar kelemahannya. Entah mantra atau sihir apa yang telah digunakan kakek itu. Semua masalahku seolah lenyap hitungan detik. Kakek itu seperti antivirus yang merefresh segala virus prasangka burukku. Teringat aku akan kata Miis kemarin, Apakah ini semua maksudmu tentang tanaman padi kemarin?, kenangku. SEKIAN

Karya : Lestari Puji Rahayu

Asal : SMA N 1 Pare XI IA2 2012/2013


TAGS Cerpen


-

Author

Follow Me